Banyak Yang Tidak Tahu, Ternyata Ini Sejarah Singkat Diadakannya Tahlilan – Ustadz Adi Hidayat

Singkat cerita kisahnya dimulai ada pertemuan di Ampel Denta di wilayah Surabaya yang saat itu dipimpin oleh Sunan Giri. Ada penyampaian-penyampaian terkhusus dari Raden Rahmat yang dikenal dengan Sunan Kalijaga kemudian ada didaerah Kadiungu. Sekarang daerahnya ke arah Demak itu anda lurus ada patahan ke kanan anda lurus saja nanti ada belokan ke arah kanan.

Kemudian bliau menjelaskan situasi yang terjadi di wilayah dakwah beliau. Menyampaikan bahwa masyarakat disini punya kebiasaan bahwa kalau ada yang meninggal dunia yang terjadi adalah pesta-pesta, ada yang makan ada yang minum, mabuk-mabuk dan sebagainya. Maka dilakukan selama 7 hari kemudian kumpul lagi ada 40 hari dan seterusnya. Itu masyarakat sekitaranya, mengajukan pada pertemuaan saat itu ke Dewan Wali bagaimana caranya ini bisa berubah.

Maka beliau mengajukan salah satu caranya kata beliau saya akan merubah isinya, karena merubah sekaligus itu tidak mungkin dilakukan. Jadi kalau dilarang sekaligus Islam akan ditinggalkan, dakwah sulit masuk, beliau survei dulu tuh.

Maka disitu kemudian tidak disetujui, kata Sunan Giri jangan dilakukan karena khawatir itu dianggap sebagai bagian dari agama. Maksud Sunan Kalijaga itu tetap berlangsung 7 hari itu 40 hari itu tapi isinya di rubah dengan kalimat-kalimat tahlil yang kemudian dipopulerkan dengan istilah tahlilan, untuk membedakan dengan tahlil yang pertama.

Cuma waktunya tidak dirubah, mereka kumpul diisi daripada mabok mendingan dari kalimat ini untuk menyampaikan kebaikan-kebaikan dan sebagainya. Itu kemudian tidak disetujui awalnya tapi kemudian dimunculkan dalih disitu.

Kalau kita tidak lakukan dengan ini maka kemudian mereka akan sulit menerima Islam. Apa dalilnya? Di Qiyaskan kemudian pada peristiwa pelarangan khamr, mirasantika di zaman Nabi.

Dari An Nahl kemudian Al Baqarah 219 posisi paling kiri sebelah bawah menerangkan bahwa asalnya orang-orang jahiliyah sering memeras pohon-pohon kurma dan anggur dijadikan alat untuk mabuk. Ayat khamrnya belum muncul, setelah itu muncul lagi yang kedua dijelaskan bahwa mabuk-mabukkan itu, minum khamr itu manfaatnya sangat sedikit tapi banyak mengandung dosa. Manfaatnya bagi yang mabuk saja karena rasanya enak. Tapi sebaliknya kata Qur’an banyak dosa yang bisa muncul setelah peristiwa itu.

Apa yang terjadi setelah itu? Pelarangan belum muncul, maka tiba-tiba ada orang yang menjadi imam shalat. Jadi sebelum shalat minum dulu kemudian ketika shalat baca Al Kafiruun tidak selesai-selesai. Maka diturunkan ayat di surat An Nisa “Hai orang-orang yang beriman jangan dekati waktu shalat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk”.

Kemudian Umar bertanya, ya Rasulullah kenapa tidak diturunkan langsung ayat yang mengharamkan tentang khamr. Setelah masa berlalu maka turunlah Qs Al Maidah ayat 90 itu. Ini semua perbuatan syetan sangat berbahaya tinggalkan semuanya itu. Maka kemudian turunlah seketika perintah tentang larangan minum khamr dan turunan perbuatan sejenisnya. Kapankah ayat itu turun? Setelah beberapa masa,ditanya kepada Siti Aisyah, setelah Nabi wafat. Kenapa ayat khamr tidak langsung diturunkan. Jawab Sit Aisyah apabila ayat seketika turun maka tidak akan ada orang yang menerima Islam pada saat itu.

Ini yang di qiyaskan oleh Sunan Kalijaga pada saat itu untuk bisa menyampaikan maksud dari tadi yang dilukiskan tentang konsep tahlilan tadi. Maka didiamkanlah pada saat itu argumen yang dimaksudkan, maka DIAM dalam kaidah fiqih menandakan SETUJU. Maka kembalilah bliau praktekan tapi sebelum mempraktekan beliau menyampaikan, kalau dikhawatirkan nanti biar anak cucu kita yang meluruskan ini, menyempurnakan maksudnya. Jadi beliau yang memulai kemudian anak cucunya yang diharapkan menyempurnakan hal itu.

Tapi kemudian disampaikan terjadilah proses itu, ketika disampaikan itulah kemudian bliau berijtihad sebelum di sempurnakan maka datanglah penjajah. Ada yang masuk Portugis lewat Selat Malaka tahun 1511, ada VOC dan sebagainya. Maka Terputuslah dakwah karena melawan penjajah pada saat itu.

Jadi terbiasalah kemudian menjadi tradisi sampai kekinian. Apa yang diijtihadkan oleh Sunan Kalijaga di masa itu bisa dibenarkan secara hukum karena banyak orang yang tidak tahu. Tapi bagi orang-orang yang sudah tahu hukumnya takziah maka tidak ada alasan untuk mempraktekan takziah. Takziah yang diinginkan itu yang didiamkan. Karena praktek ini dikhususkan untuk hukum tertentu yang belum tahu hukumnya.

Jadi bagi orang yang sudah tahu hukumnya cukup kerjakan takziah saja tidak perlu mengadakan yang tadi. Karena itu hukum darurat dalam keadaan tertentu. Seperti antum dalam keadaan wudhu misalnya menemukan air, airnya ada. Kemudian dalam kondisi tertentu airnya tidak ada, maka apa yang dilakukan? Tayamum. Pakai apa? Debu yang suci kemudian antum jalan lagi ketemu air, apakah masih berlaku tayamum? Tidak, kenapa?

Baik, karena tayamum stuasinya darurat maka setelah ada air tayamum ditinggalkan dan air wudhunya digunakan.

sumber: dakwahmuslim.info

Tinggalkan Balasan